Meniti Bahaya di Tengah Banjir, Perjuangan Warga Aceh Timur Menuju Hunian Sementara
PEUGAH.NET | ACEH TIMUR .Derasnya aliran sungai yang membelah Desa Ujung Karang dan Desa Sunti, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, kembali menjadi ujian berat bagi warga. Di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda, sungai itu berubah menjadi penghalang yang harus ditaklukkan demi mencapai hunian sementara (Huntara) di Dusun Temboloh, Desa Ujung Karang.
Setiap langkah yang diambil bukan sekadar perjalanan biasa. Warga harus menyeberangi arus sungai yang semakin deras akibat tingginya curah hujan. Tidak sedikit dari mereka yang menggenggam erat tangan anak-anak, menopang orang tua, hingga saling membantu agar tidak terseret arus.
Bagi masyarakat, pilihan itu bukan karena berani mengambil risiko, melainkan karena tidak ada alternatif lain. Huntara menjadi satu-satunya tempat yang dapat mereka tuju, meski akses menuju lokasi tersebut harus ditempuh dengan mempertaruhkan keselamatan.
Kondisi ini paling dirasakan oleh kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Setiap kali hujan turun, rasa khawatir selalu menyelimuti perjalanan mereka. Ketiadaan jembatan yang layak membuat aktivitas sehari-hari berubah menjadi perjuangan yang penuh kecemasan.
Tokoh masyarakat Serbajadi, Eje ST, mengatakan derasnya arus sungai setiap musim hujan telah lama menjadi persoalan yang belum menemukan solusi. Menurutnya, warga selalu dihadapkan pada situasi berbahaya saat hendak menuju Huntara.
"Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, warga harus mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai untuk menuju Huntara. Kami sangat berharap pemerintah segera memberikan solusi agar masyarakat tidak lagi menghadapi kondisi berbahaya seperti ini," ujar Eje.
Ia berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah nyata dengan membangun akses penyeberangan yang aman dan permanen. Kehadiran jembatan tidak hanya akan mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi jaminan keselamatan bagi warga yang selama ini harus berhadapan langsung dengan derasnya arus sungai setiap musim hujan tiba.
Hingga kini, harapan itu masih menggantung di tepian sungai. Sementara hujan terus turun, warga Serbajadi tetap melanjutkan perjuangan mereka—menyeberangi derasnya arus demi mencapai tempat berlindung yang seharusnya dapat diakses tanpa harus mempertaruhkan nyawa.

Posting Komentar